classic romance

Jutaan kisah cinta telah ditulis dan dibukukan, tetapi hanya segelintir yang telah dibaca banyak orang, diterbitkan ulang, dan terus dicintai pembaca dari generasi ke generasi.  Segelintir buku-buku jenis inilah yang dikategorikan ke dalam classic romance.

Secara khusus, ada juga yang mensyaratkan classic romance adalah novel roman yang diterbitkan sebelum tahun 1980. Banyak versi yang mengurutkan novel classic romance bahkan hingga 100 buku terbaik. Entah itu yang dibuat oleh kumpulan pegiat literasi, toko buku, majalah, opini pribadi, jurnalis, dll. Tentu saja, beragam hasilnya. Tetapi pada umumnya banyak kesamaan judul dalam daftar-daftar tersebut. Yang paling populer adalah  Gone with the Wind. Karya Margaret Mitchell tahun 1936 ini memenangi Pulitzer Award, dan disebut sebagai novel Amerika terbaik sepanjang masa.  Inilah kisah cinta Scarlett O’Hara dan Rhett di tengah perang saudara Amerika yang disebut-sebut menjadi film terbaik sepanjang masa.

Pride and Prejudice, serta  karya-karya lain Jane Austen seperti Sense and Sensibility, Emma, Northanger Abbey, Mansfield Park, dan Persuasion juga adalah karya-karya yang tak lekang waktu. Judul-judul lain yang banyak disebut adalah  Wuthering Heights (Emily Bronte),  Jane Eyre (Charlotte Bronte), Dr. Zhivago (Boris Pasternak), The Great Expectation (Charles Dickens); Madame Bovary (Gustave Laubert), dan Little Women (Louisa May Alcott).

Di Indonesia, novel-novel tersebut banyak digemari dan diterbitkan ulang. Beberapa alasan paling mungkin yang menjadikan kepoluleran genre romance menjadi classic romance adalah sebagai berikut:

  1. Diakhiri dengan ending yang HEA–Happily Ever After. Pembaca novel romance menyukai akhir bahagia. Masing-masing karakter menemukan apa makna cinta dan memperoleh kebahagiaannya.
  1. Kalaupun tidak berakhir bahagia, romance novel yang berkesan akan menyuguhkan Optimistic Ending–akhir yang optimistik, yang tetap menghibur pembaca dan memberikan semangat yang positif.
  1. Ada konflik yang masuk akal, nyata, dan dapat diselesaikan oleh para pelaku. Semua konflik serta permasalahan yang dihadapi tokoh utama justru membantunya mencapai tujuan dan kebahagiannya, seperti pernah ditulis Jane Austen, “Jika prahara telah berakhir maka kenangannya seringkali terasa sebagai suatu kenikmatan.” [rst]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>