ParenThink: Orangtua Cerdas Ala Mona Ratuliu

Banyak orangtua bersikap seperti seorang komandan, yaitu hanya mengeluarkan perintah-perintah agar anak bersikap baik.  Padahal, diperintah terus rasanya pasti tidak menyenangkan. Lagipula, kalau anak terus menerus harus menuruti perintah orangtua, kapan anak belajar mengambi keputusan sendiri? Orang tua tak semestinya pihak yang selalu memerintah dan mengambil keputusan. Anak tak semesinya ‘disuapi’ terus oleh orang tuanya.

Mendidik anak berperilaku baik bukan dengan perintah, tetapi memberi teladan. Menjadi contoh yang nyata bagi anak. Sebab kita tahu bahwa kemampuan pertama yang dimiliki anak adalah meniru kebiasaan orang tua dan orang-orang terdekat di lingkungan mereka. Membangun kebiasaan baik anak-anak dengan contoh yang baik akan menghindarkan  orang tua dari risiko menjadi “komandan.” Relasi orang tua dan anak pun menjadi nyaman karena anak tidak akan merasa digurui. Kita tak perlu menjadi orangtua ‘rese’ yang selalu memerintah anak melakukan hal-hal yang tidak disukai anak. Anak bisa memutuskan sendiri perilaku apa yang mau dia tiru.

Namun, anak-anak ternyata lebih mudah meniru kebiasan-kebiasan buruk di lingkungannya. Jadi, bagaimana caranya agar anak meneladani hal-hal positif? Mau tak mau orang tua harus berusaha memperbaiki kebiasaan sehari-hari. Ingatlah, segala tingkah laku dan gerak-gerik orangtua selalu ‘diawasi.’ Tidak membuang sampah sembarangan, tidak marah-marah, bersikap sopan terhadap orang lain, bertanggung jawab, itulah sebagian perilaku yang bisa mulai kita contohkan sehari-hari.

parenthink“Suatu hari tanpa sengaja saya menumpahkan air ke lantai. Supaya tidak terkesan membebani, saya mengemas aktivitas mengepel air tumpahan itu dengan menyenangkan dan penuh semangat. Saya menunjukkan rasa senang dan lega karena lantainya kembali bersih dan aman dari genangan air. Tak lupa saya tambahkan bahwa saya senang rumah kami kembali bersih,” tutur Mona Ratuliu berkaitan dengan caranya memberi teladan yang baik bagi ketiga anaknya, bahkan di kondisi-kondisi tak terduga yang mengganggu kestabilan emosi orang  tua.

Pola asuh dengan teladan yang baik paling efektif diterapkan ketika anak berusia 0-5 tahun. Tapi di luar usia 0-5 tahun pun anak tetap harus melihat contoh yang baik dari dua orang tuanya. Artinya, orang tua harus terus konsisten menjadi contoh berperilaku baik. Bukankah memang sudah seharusnya semua orang berbuat baik? [rst]


 

Sumber: ParenThink, Mona Ratuliu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>