Masih ingat kisah pilu yang diceritakan Daniel Goleman tentang siswa berprestasi yang menikam  gurunya karena mendapat nilai jelek? Kisah itu menjadi salah satu yang digunakan Goleman untuk menekankan pentingnya kecerdasan emosional yang sangat memengaruhi keberhasilan hidup seseorang.

Sebagai orangtua, tentu kita tak ingin anak kita sekadar pandai secara akademik. Kita ingin dia juga pandai bergaul, bersosialisasi, pandai mengelola perasaan sendiri dan menyikapi perasaan orang lain. Dengan kata lain, kita ingin anak kita cerdas secara emosional.

DSC_0281

Salah satu menumbuhkan kecerdasan emosi anak adalah dengan cara memahami dan berempati kepada perasaan mereka. Anak-anak perlu tahu bahwa kita memahami mereka—bahkan ketika kita tidak dapat berbuat apa-apa tentang perasaan itu.

Berempati bukan berarti setuju dengan perasaan anak, namun berusaha memandang permasalahan dengan kacamata mereka. Anda pasti juga merasa lebih nyaman bila orang lain memahami pandangan atau perasaan Anda, bukan?

Perasaan dipahami dapat melepaskan zat-zat biokimia yang mendorong rasa nyaman, sekaligus membiasakan anak untuk dapat memahami dirinya sendiri. Selain itu, ia juga akan berlatih berempati kepada orang lain—anak akan mengenal cara berempati hanya jika dia mengalami perasaan nyaman mendapat empati.

Bagi anak-anak yang masih sangat belia, mengenal nama-nama perasaan mereka saja—senang, sedih, kesal, marah, dll.—sudah cukup membantu dalam mengelola emosi yang sedang meruah menguasai.

“Mama tahu kamu kesal karena harus berhenti bermain untuk mandi sore. Tapi ini memang sudah waktunya.”

“Rasanya ingin marah ya saat mainanmu rusak?”

“Mama mengerti kamu ingin tidur malam seperti kakak.”

“Kamu sedih ya tidak bisa ikut Mama ke kantor?”

“Kamu kesal karena kakak melarangmu meminjam pensil gambarnya?”

“Kamu pasti lebih senang kalau Mama terus menemanimu di rumah?

Jadi, mulailah membiasakan ungkapan-ungkapan empati untuk si buah hati. Kenali saat-saat mereka memerlukannya, dan ungkapkan pemahaman Anda dengan setulus hati. In sya Allah, cara sederhana ini akan membantu akan menjadi pribadi-pribadi yang peka dan memiliki kecerdasan emosi yang tinggi. [png—Sumber: AHAParenting]