infosastra.com

Penulis angkatan tahun 70-an pasti bersahabat dengan mesin ketik. Demikian pula dengan Budi Darma, salah satu sastrawan terbaik tanah air. Bedanya dengan penulis lain, Budi Darma akan menulis ulang semua naskah yang sudah diketiknya dengan tulisan tangan. Sungguh suatu bentuk kesabaran yang mengagumkan.

Lahir pada tahun 1937 dan mengalami masa perang serta menjadi saksi sejarah perjalanan kemerdekaan Indonesia, Budi Darma banyak menyaksikan peristiwa-peristiwa mengerikan dan menyedihkan. Tak heran, dia tidak pernah menulis cerita kehidupan yang manis. Imajinasi yang muncul ketika menulis selalu merupakan gambaran yang menakutkan. Tulisannya bisa membuat orang bergidik.

Orang Orang BloomingtonPada kumpulan cerpen Orang-orang Bloomington, misalnya, Budi Darma mengisinya dengan kisah kesepian, masa tua yang kelabu, penyakit, dan penyesalan.  Namun di situlah letak kekuatannya, karena  Orang-orang Bloomington  bisa menjadi contoh mendidik. Sembilan cerpen yang ditulisnya saat menempuh pendidikan di Bloomington, AS, bercerita seputar orang-orang yang diamatinya di Bloomington. Bentuk pemikiran tentang kepahitan dan kekosongan hidup, kesepian, keterasingan, kesendirian, dan kekejaman, juga ada di karya-karya lainnya.

Sebagai salah satu penulis prosa terbaik, kemampuan bertutur Budi Darma didapat dari gambaran jelas suatu peristiwa, yang  ‘terlihat’  di luar kesadarannya. Dia bisa merasakan seolah berada si pesawat terbang, misalnya, dan menceritakan detail suasana di dalamnya tanpa pernah melihatnya.

Kekayaan pengalaman hidup menjadi kekayaan ide yang tak terhitung banyaknya. Kenangan tentang ibunya, kenangan tentang masa PKI, kenangan tentang masa perang, tertuang dalam beberapa tulisannya. Dalam Olenka (1983), Rafilus (1988), dan Ny. Talis (1996), serta beberapa  cerpennya.

Di luar karya sastra, Budi Darma menulis Sejarah 10 November 1945 (1987), Culture in Surabaya (1992), serta beberapa karya lainnya. Dan sebagai tokoh sastra, sumbangannya yang lain adalah Pengantar Teori Sastra (2005).

Tahun lalu, kumpulan cerpen Orang-orang Bloomington diterbitkan kembali. Dengan bahagia kakek 80 tahun itu berpesan, “Saya harap, penulis-penulis zaman sekarang tidak mengulangi kesalahan yang saya lakukan di masa muda. Saya menulis tidak bertujuan untuk diterbitkan. Saya hanya mengirimkan tulisan saya ke media,  kalau bukan karena penerbit yang menghubungi saya lebih dulu, mungkin tulisan saya takkan pernah jadi sebuah buku.” [rst]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>