DSC_0090

Adakalanya anak terlihat uring-uringan, dia seperti sedang memendam perasaan yang sulit diekspresikan. Anak tantrum. Pada kondisi seperti itu, orangtua sebaiknya bertindak. Bantulah ia menangani masalahnya dengan bermain.

Sebagai contoh, misalnya anak yang masih berumur 4 tahun entah mengapa tiba-tiba ingin selalu bersama ibu. Jangan terlalu mengikuti keinginannya. Jangan banyak bertanya kepadanya mengapa ia bersikap seperti ini. Ada cara untuk mengalihkan perhatiannya dari ibu. Ajaklah ia bermain. Libatkan juga Ayah. Dalam permainan ini Ayah berpura-pura sebagai pihak yang kalah dan berusaha merebut anak dari ibu.  “Mana anak Ayah. Ayah mau culik anak Ayah, biar tidak sama ibu terus. Awas, jangan lari dari Ayah ya. Ayah kejar ya, Ayah kejar kamu ya. Wah kamu hebat larinya. Tapi Ayah pasti bisa menangkap kamu!”

Permainan  semacam itu bisa dilakukan bersama anak. Mungkin ia akan tertawa dan ia akan terus bertahan dekat ibunya. Selanjutnya ia akan melepaskan perasaan uring-uringan yang tak bisa diekspresikannya tadi dan mengubah perasaan sebelumnya yang tergantung pada ibu.

Cara melepaskan perasaan kacau balau itu akan berpengaruh positif pada kecerdasan emosi anak. Mengapa?

Semua anak pernah mengalami gejolak perasaan dalam keseharian mereka. Anak-anak sering merasa tidak berdaya, tertekan, marah, sedih, takut, dan iri. Mereka yang sehat secara emosi, mengolah perasaan-perasaan tersebut dengan cara bermain.  Membantu anak bermain untuk mengolah gejolak perasaannya membuat mereka belajar mengatasi perasaan, sehingga mereka bisa menghadapi perasaan yang terus berkembang dan lebih rumit pada tahap usia selanjutnya.

Anak tidak bisa mengungkapkan perasaan mereka dengan kata-kata. Hal itu terlalu sulit bagi mereka. Tetapi mereka bisa mengungkapkannya secara simbolis dengan cara bermain, dan mengatasi perasaan itu setelah bermain, tanpa perlu menjelaskan perasaanya dengan kata-kata. Orangtua harus punya waktu bermain dengan anak. Orangtua harus menciptakan permainan-permainan di rumah. Bermain akan menghindari anak menangis ketika mereka uring-uringan.

Tertawa itu melepaskan hormon stres, begitu juga dengan air mata. Tapi, lebih asyik tertawa, bukan?