Oleh: Bernard Batubara

Ibu saya senang menanam bunga. Ia punya banyak pot di rumah kami, semuanya berisi bunga. Saya tidak begitu mengenal bunga-bunga itu, apalagi menghafal namanya. Tapi di antara pot-pot yang tersusun rapi di dekat beranda tersebut, saya ingat pernah melihat bugenvil dan kembang sepatu. Sesekali, biasanya sore hari setelah saya bangun dari tidur siang sepulang sekolah, saya menyirami bunga-bunga itu—saya mengambil air dari bak mandi dengan gayung, lalu memercikkannya ke setiap pot, sembari menghitung satu per satu pot itu, hingga saya yakin semuanya telah tersiram. Saya senantiasa tersenyum setiap beres menyirami bunga-bunga milik ibu. Saya senang melihat bunga bunga itu tampak segar. Keindahan mereka semakin terpancar setelah basah terkena percikan air.

Ayah saya, di sisi lain, senang memelihara hewan. Dari beberapa hewan di rumah kami—burung, ikan, munyuk—yang mati secara bergiliran, saya merasa ayah saya tidak begitu berbakat memelihara hewan. Tapi ia seorang laki-laki yang ulet. Ia tidak mudah menyerah. Hewan terakhir yang menjadi anggota keluarga kami adalah tiga ekor angsa, dan setelah arwana kami yang sempat hidup cukup lama, tiga ekor angsa inilah yang hingga saat ini masih bertahan di rumah. Ayah saya juga gemar bertukang. Ia ingin memiliki bengkelnya sendiri. Ia juga secara rutin memanjat dan memangkasi dahan-dahan pohon ketapang besar di halaman rumah. Ia selalu terlihat mengenakan kaus singlet dan berkotor-kotoran.

Cerita pendek Dilarang Mencintai Bunga-Bunga karya Kuntowijoyo, seketika saja membuat ingatan saya terlempar ke pot-pot bunga milik ibu di rumah kami. Tak hanya kepada ibu, cerita itu juga membuat saya teringat pada ayah saya. Dialog tokoh Ayah di cerita tersebut, meski tidak persis sama dengan apa yang pernah diucapkan ayah saya sendiri, membuat saya mau tidak mau mengingat laki-laki yang selalu menjadi panutan hidup saya itu. Tokoh ibu yang menyuruh si anak menuruti perkataan ayahnya, mengingatkan saya pada ibu saya sendiri. Tokoh utama cerita itu, seorang anak kecil yang dipenuhi rasa penasaran dan senang melihat bunga-bunga yang indah, mengingatkan saya pada diri saya sendiri.

Sebagai anak kecil, saya merasa lebih dekat kepada ibu ketimbang ayah. Katanya (entah kata siapa) hal demikian adalah wajar—anak laki-laki lebih dekat dengan ibu dan anak perempuan lebih dekat dengan ayah. Saya lebih tertarik pada apa yang dilakukan ibu: memasak, mencuci piring dan gelas, menyirami bunga-bunga, menyetrika dan melipat pakaian, atau membuat kue. Sedangkan, pada kegiatan ayah saya, ketertarikan saya tidak begitu besar. Saya tidak tertarik mengutak-atik mesin motor dan mobil, mengecat pagar, memanjat pohon, atau mengaduk semen. Suatu hari ayah saya pernah melontarkan kritiknya. Anak laki-laki tempatnya bukan di dapur. Ia mengatakan hal itu ketika saya sedang mencuci gelas dan piring, di tempat pencucian yang kebetulan letaknya dekat dapur. Saya kira mencuci piring dan menjadi asisten ibu saat memasak adalah wujud bakti saya membantu orangtua. Saya pikir, bukankah itu hal baik? Kenapa ayah memberi saya kritik atas itu? Apa anak laki-laki tidak boleh mencuci dan memasak? Kenapa saya harus ikut bertukang seperti dirinya? Apa jika saya lebih senang bersentuhan dengan bumbu-bumbu dapur dan menyimak bunga setiap pagi dan sore membuat saya menjadi tidak laki-laki lagi?

Dari banyak hal yang disampaikan Kuntowijoyo lewat cerita-cerita pendeknya dalam kumpulan Dilarang Mencintai Bunga-Bunga, saya melihat sedikitnya satu hal: ia sedang mengejek kegemaran membangun stereotip dan kemampuan luar biasa manusia dalam berprasangka buruk. Cerita pendek Dilarang Mencintai Bunga-Bunga sendiri, meski dapat dipandang sebagai anjuran untuk memenuhi ragam aspek kebutuhan seorang manusia dalam mencapai kebahagiaan—kedamaian emosi, keuletan bekerja, kekayaan spiritualitas (Malam hari aku pergi tidur dengan kenangan-kenangan di kepala. Kakek ketenangan jiwa-kebun bunga, Ayah kerja bengkel, Ibu mengaji-masjid)—secara jelas cerita tersebut memuat kritik terhadap maskulinitas, atau stereotip terhadap bagaimana seharusnya diri seorang laki-laki.

Cerita pendek Anjing mengingatkan saya pada novel To Kill A Mockingbird karya mendiang Harper Lee. Novel bagus itu menghajar telak setiap orang yang gemar berprasangka buruk, begitu pula cerita Kuntowijoyo. Bedanya, tokoh suami-istri dalam Anjing mengoreksi diri mereka sendiri seiring berjalannya cerita, dan menemukan kejutan lain yang terasa agak sureal. Kelak, kesan sureal ini juga muncul di cerita-cerita Kuntowijoyo lain—misalnya Segenggam Tanah Kuburan, tentang seorang maling yang dikalahkan oleh tembang—yang, bagi saya, memberi rasa unik pada bangun cerita realisnya, berkali-kali mengingatkan saya pada buku-buku Ahmad Tohari.

Dilarang Mencintai Bunga-bungaEjekan terhadap stereotip laki-laki dan perempuan gamblang tergambar dalam cerita Samurai, tentang seorang suami yang terganggu dengan sikap istrinya, yang menurut ia terlihat sangat tidak perempuan—ia kerap menunjukkan ketegasannya pada si istri, demi membangun kewibawaan sebagai laki-laki dan suami dalam rumah tangga itu (salah satunya dengan memajang samurai yang suatu waktu pernah dilumuri darah manusia betulan) tapi selalu berakhir dengan keterkejutannya akan sikap si istri yang tidak pernah takut kepadanya, bahkan membuatnya tampak jinak dan itu mengganggunya karena ia merasa jadi tidak sangat laki-laki lagi.

Saya tertawa berkali-kali saat membaca cerita itu. Selain karena saya merasa ceritanya sangat lucu, mungkin juga karena saya tahu di suatu tempat di dunia yang sempit ini, dalam zaman post-postmodernism ini, masih ada laki-laki yang memiliki pikiran serupa tokoh suami di cerita pendek tersebut—yang menganggap bahwa perempuan seharusnya takut dan tunduk di hadapan laki-laki, bergidik melihat hal-hal seram, dan menjadi sosok lemah hingga patut membutuhkan perlindungan dari laki-laki. Sebaliknya pula, “… laki-laki yang tak bisa menundukkan perempuan, tak usahlah dia kawin.”

Cerita-cerita Kuntowijoyo lainnya, meski tidak selalu menyoroti keburukan stereotip, tetap penuh dengan sindiran-sindiran, yang sering kali disampaikan dengan dialog-dialog yang jenaka: Serikat Laki-Laki Tua mengandung sindiran pada fasisme dan anti-keberagaman; Sepotong Kayu untuk Tuhan mengandung kritik terhadap cara beragama dan berketuhanan; Gerobak Itu Berhenti di Muka Rumah sekali lagi adalah ejekan terhadap prasangka buruk, yang tampaknya telah menjadi unsur di dalam darah-daging manusia; Ikan-Ikan dalam Sendang merupakan sindiran terhadap tindak tipu-tipu dalam usaha memonopoli rezeki; Mengail Ikan di Sungai, meski ditutup dengan kesedihan, juga adalah sindiran terhadap akal sehat (saat membacanya saya teringat pada kisah Ponari dan batu ajaib); sedangkan Burung Kecil Bersarang di Pohon dapat dibaca sebagai ejekan terhadap cara beragama dan beriman.

Hampir seluruh cerita Kuntowijoyo ditulis menggunakan gaya realis; memang terlihat sesuai dengan gagasan yang hendak ia sampaikan. Meski demikian, kejutan-kejutan kecil di akhir cerita tidak jarang pula membuat saya agak kecele, dan membuat pembacaan atas cerita-ceritanya menjadi lebih menyenangkan.

Bertahun-tahun kemudian, setelah saya sedikit lebih dewasa dan bisa mencari penghidupan sendiri, barulah saya lebih mengerti atas kritik yang ayah saya beri sewaktu saya kecil. “Anak laki-laki tempatnya bukan di dapur.”—bahkan saya masih mengingat kalimatnya itu kala usia saya yang hanya beberapa tahun lagi menginjak tiga puluh. Saking kuatnya, pesan dalam kalimat tersebut menohok dada saya dan membangun pemikiran saya atas apa yang dimaksud dengan menjadi seorang laki-laki.

Sampai saat ini pun sebetulnya saya masih bertanya: Apa artinya menjadi laki-laki? Saya sudah paham, bahwa maksud ayah saya adalah laki-laki harus bekerja keras—tapi bukan berarti bekerja kasar, bukan? Laki-laki harus ulet, merantau, pergi ke luar rumah dan menjalani hidup—tapi bukan berarti tidak boleh beristirahat sebentar di tepi jalan dan menikmati keindahan bunga-bunga, bukan? Laki-laki harus berani berlumuran oli mesin, cat tembok, pasir dan tanah—tapi juga boleh berkegiatan yang bersih-bersih saja, bukan?

Cerita-cerita Kuntowijoyo dalam kumpulan Dilarang Mencintai Bunga-Bunga ini membangkitkan kembali pertanyaan-pertanyaan yang sesungguhnya sudah tak begitu saya pikirkan lagi—seperti yang terjadi setiap kali saya membaca cerita bagus. Cerita-cerita bagus selalu relevan kapan pun ia dibaca.

Saya menulis catatan ini dua hari setelah hari berpulangnya Kuntowijoyo meninggal sebelas tahun lalu. Usai membaca cerita-ceritanya, ada semacam dorongan aneh yang berlangsung dalam ruang imajinasi saya. Saya membayangkan diri memetik setangkai bunga apa pun yang tumbuh di sekitaran makamnya, lalu bergumam sendiri:

“Jika mencintai bunga-bunga membuat saya terlihat tidak begitu laki-laki lagi, biarlah saya jadi laki-laki yang mencintai bunga-bunga. Biarlah saya bebas mencintai apa pun yang saya mau. Sebab, toh: Tak ada kebebasan. Setiap kita mau kebebasan, orang lain merampasnya dari tangan kita. Jadi biarlah saya bebas. Biarlah saya, dalam ketidakbebasan dan penjara citra diri yang dibangun orang lain, bersenang-senang mencintai bunga-bunga yang orang bilang tak boleh saya cintai.”

Yogyakarta, 24 Februari 2016.[]


Berani Mencintai Bunga-Bunga adalah kata pengantar yang ditulis oleh Bernard Batubara untuk buku Dilarang Mencintai Bunga-Bunga karya Kuntowijoyo.