Merujuk hasil survei yang dikeluarkan UNESCO pada 2012 tentang minat baca di 61 negara, Indonesia berada di posisi kedua terendah atau hanya 0,0001% (dari 1000 orang hanya satu yang rajin membaca). Bagi Seno Gumira Ajidarma hal tersebut justru sebagai tantangan untuk membuat karya tulis, dalam hal ini sastra, agar bisa bertemu pembacanya.

“Kita jangan menyalahkan pembaca, penonton, atau mereka yang bukan pekerja sastra. Saya lebih suka mengatakan itu sebagai ketidakmampuan sastra untuk membuatnya berhasil menjadi karya,” ujarnya dalam acara Menjadi Manusia dengan Sastra yang digelar di Galeri Indonesia Kaya pada Minggu (11/2) kemarin.

DSC03230

Sementara itu, di ruang dan waktu yang sama Budi Darma tidak mau terlalu gegabah mengomentari fenomena tersebut. Baginya, fakta bahwa banyak anak muda yang tidak suka membaca itu ada benarnya namun tidak sepenuhnya benar. “Karena ketika kita masuk ke toko buku, ada saja anak muda yang sedang membaca buku dan meminta orangtuanya untuk membelikan buku,” ujar penulis buku Orang-orang Bloomington dan Rafilus tersebut.

Lebih lanjut lagi dia menilai anak muda hari ini berdiri dengan dua kaki. Pertama, mereka sangat pandai dalam menggunakan perangkat telekomunikasi. Kedua, mereka bisa membaca buku yang baik, meski awalnya dimulai dari membaca yang sesuai dengan usia ataupun selera. Namun Budi Darma meyakini perlahan, anak muda ini akan menjadi pembaca yang baik.

(Baca juga : Penulis Ibarat Psikolog)

Seno Gumira Ajidarma menambahkan, “Sebetulnya kalau kita lihat statistik misalnya, toko buku, jumlah buku, klub buku, dan lifestyle membaca buku –di mana malu kalau belum membaca apa, saya kira meningkat. Jenisnya semakin banyak, sastra tidak harus selalu seperti yang ditulis Armijn Pane, Sanusi Pane, atau Chairil Anwar misalnya. Sudah tidak musim lagi sastra tinggi-rendah, semua bacaan kedudukannya sama.”

DSC03228

Penulis buku Dunia Sukab tersebut malah menaruh curiga bahwa istilah sastra itu sendiri yang sebenarnya keliru, sehingga mengesankan adanya jarak dengan pembaca. “Namanya diganti saja menjadi Paimo. Supaya tidak berjarak, akrab dan tidak seram,” pria yang menjabat Rektor Institut Kesenian Jakarta sambil tertawa. []

Teks & Foto: Abdi Putra