anies

Judul: ANIES: Tentang Anak Muda, Impian, dan Indonesia
Penulis : Syafiq Basri
Penerbit: Noura Books, Jakarta Selatan
Terbitan: 2016
Tebal: 199  halaman
ISBN: 978-602-385-032-7

Kisah seputar kesuksesan, komitmen, spirit, dan ketangguhan generasi bangsa di republik ini tak pernah habis. Setiap jengkal masa selalu ada karya emas terpendam. Ibarat memancing di luas samudera, satu dua sampai beberapa ikan terjangkit di kail. Buku ini menjadi salah satu saksi bisu sejarah lahirnya anak negeri dengan dedikasi dan kontribusi luas biasa. Syafiq Basri, menghadirkan sosok Anies Baswedan ke tengah-tengah bangsa Indonesia sebagai pelipur lara atas sejumlah tragedi semangat juang yang luruh. Bukan persoalan kepentingan politik pemilihan pemimpin suatu komunitas, namun kehadiran buku biografi Anies ini merupakan cambuk bagi kegetiran masa depan republik. Sekian hari masyarakat di Indonesia berkutat dengan euforia sekterian, ideologi, dan kelompok. Gesekan sosial sering terjadi. Bendera kepentingan yang sifatnya etnisitas kerap kali muncul, meski secara terselubung. Sejumlah orang mudah teprovokasi dan suka memancing yang lain untuk melakukan gerakan aksi sabotase, sehingga rasionalitas berkebangsaan layu begitu saja.

Syafiq Basri melalui karya setebal 199 halaman ini memberikan nyanyian inspiratif lewat perjuangan hidup sang tokoh bernama Anies Baswedan. Sosok Anies sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kebanyakan pemuda di kawasan negeri ini. Hidup dalam kampiun kebersahajaan, kesederhanaan, dan pola pikir adat ketimuran. Anies termasuk salah pemuda di negeri yang terlibat secara dramatik dengan realitas-realitas problematik bangsa Indonesia. Di saat masa berkabung atas meninggalnya sang kakek, realitas kehadiran sosok pendeta Romo Mangun menggugah nalar kebhinnekaanya. Dia menyadari, ada sesuatu yang belum hieraki dalam keberagamaan masyarakatnya. Sejumlah komunitas belum mampu menerima kemajemukan tanah air sebagai landasan berkehidupan. Nilai-nilai ajaran agama sering dibentur-salahkan dengan nilai-nilai budaya tanah air. Jadinya, sering muncul gejolak menyudutkan satu dengan yang lainnya. Anies, merasakan kehadiran seorang pastor di tengah-tengah prosesi pemakaman kakeknya sebagai pesan moral membangun kebersamaan dalam perbedaan (hlm 18).

Realitas kebersamaan dan perbedaan keyakinan substansinya adalah marwah demokrasi di Indonesia. Miniatur kehidupan kemajemukan di negeri ini sangat nyata. Begitu nyata, saat ini dunia melirik cara berkehidupan umat beragama di Indonesia yang sangat santun. Percikan konflik atas nama agama ada, namun voltasenya sangat sedikit. Tidak sampai memunculkan radiasi peperangan di sana-sini. Motivasi Anies untuk belajar banyak terhadap realitas di sekitarnya memacu nalar dan semangatnya untuk menjemput mimpi-mimpinya. Selepas ditinggal sang kakek, dia melangkah lebih progresif. Sejumlah peran sejak waktu masih di bangku sekolah direngkuh. Kedisiplinan keluarga mengajarkan dia untuk bertarung dengan kompetisi kehidupan yang ketat. Keterbatasan dan kesederhanaan menjadikan sosok pemuda Anies tampil lebih optimis. Puncaknya, setelah tahun 2014 lalu pemerintahan Joko Widodo-Yusuf Kalla menitahkan tugas negara pada dirinya sebagai Menteri Pendidikan Republik Indonesia. Pada babakan jabatan struktural ini, karakter pengabdian kepada negara terlihat jelas pada diri seorang Anies Baswedan (hlm. 100).  Sejumlah program srategis dalam wujud kepentingan umum menjadi prioritasnya. Ada sejumlah peran sentral yang ditampilkan Anies, namun semua itu tak pernah lepas dari kritik dari berbagai pihak di sekitarnya. program kerja, dan wawasannya tidak selamanya diterima banyak kalangan. Sejumlah pihak juga sering mengganggap, semua itu sangat kontroversial. Akan tetapi, prinsip Anies, apa yang dia lakukan bukan about me namun, about the nation, about the government.

Karya ini enak dibaca karena sudut pandang penulis sangat akomodatif. Penulis merekam jejak sang tokoh dalam batasan ruang ilmiah. Sulit menemukan sisi politis-ideologis sebagai magnet karyanya. Tidak ada rupa-rupa promosi prestasi sang tokoh yang terkesan metaforis. Penulisan sejarah hidup Anies direduksi dari perjalanan kehidupan sehari-hari, masa pendidikan, masa berkiprah kepada negara, dan wawasan Anies terkat mimi-mimpi masa depannya. Sajian yang sangat kental membaca buku ini, sangat sarat pesan moral dan nilai-nilai. Moral dan nilai ke-Indonesiaan. Pertama, keberanian. Sosok pemberani Anies menggapai semua mimpi akademik dan jabatannya hakekatnya dimiliki semua orang. Orang sukses bukan hanya Anies. Namun, semua pemuda bisa menjadi bagian organ penting dalam bangunan peradaban bangsa Indonesia. Bahkan, bisa melebihi prestasi Anies Baswedan. Kuncinya, sekali lagi adalah berani. Berani membentur ruang dan waktu. Kedua, pengabdian tulus. Sukses saja tidak cukup, jika hanya hendak dinikmati diri sendiri. Kesuksesan (kehebatan) seseorang akan dilihat nyata setelah mampu memberikan kontribusi berharga bagi kehidupan sekitarnya. Sebab, setelah kita meninggal, orang akan mengingat dan mengenal kita karena amal perbuatan. Semoga kita bisa menjadi pejuang dan penyelamat bangsa ini.


 

Resensi ini ditulis oleh Zaitur Rahem, penulis lepas dan dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Guluk-Guluk, Madura dan telah dimuat di Jawa Pos-Radar Madura, 15 Januari 2017