The Lightning Thief berhubungan dengan sihir dan dewa-dewi Yunani. Apakah Uncle Rick khawatir dengan penyensoran?

Di kebudayaan Barat,  kita selalu memiliki kekhawatiran terhadap perpaduan antara mitologi klasik dan nilai-nilai Yahudi-Kristen. Dari segi budaya, kita cenderung percaya pada keesaan Tuhan, tapi kita juga tumbuh bersama kisah-kisah lama yang indah tentang dewa-dewi Olympia. Selama kita mengakui mereka sebagai cerita rakyat yang menjadi bagian dari warisan budaya dan tidak lagi menjadi agama yang benar-benar serius, aku tidak melihat ada suatu ancaman dari mempelajari mitologi. Kenyataannya, kurasa kau harus mengetahui sedikit banyak tentang mitologi Yunani agar memahami dari mana peradaban modern kita berasal. Itu adalah bagian dari menjadi masyarakat yang berpendidikan.

The Lightning Thief mengeksplorasi mitologi Yunani dalam latar modern, namun tetap memiliki cita rasa humor khas cerita fantasi. Aku tidak tertarik sama sekali untuk mengubah atau menyanggah keyakinan siapa pun. Pada awal buku ini, karakter Chiron membuat perbedaan antara Tuhan─G kapital─sebagai pencipta alam semesta, dan dewa-dewa Yunani─ditulis dengan huruf g kecil. Chiron mengatakan dia tidak ingin menyelidiki masalah Tuhan, tetapi ia tidak memiliki keraguan untuk membahas para dewa-dewi Olympia, karena mereka adalah “masalah yang jauh lebih kecil.” Para dewa-dewi Olympia adalah pola dasar. Mereka tertanam begitu dalam dan tak bisa dipisahkan dari pemikiran Barat. Buku ini memberikan penghargaan kepada peninggalan Olympus sebagai salah satu  akar budaya kita.

rick-vs-rick-630x318
Camp Jupiter VS Camp Half-Blood. Sumber: Percy Jackson Movies.

Keajaiban dan fantasi di dalam novel juga diambil langsung dari mitologi Yunani. Dengan menceritakan kembali tugas pencarian yang diemban para pahlawan legendaris di masa lalu. Tujuanku menulis novel adalah agar anak-anak tertarik mempelajari mitologi Yunani lebih dalam lagi. Jika lembaga sensor ingin menantang Percy Jackson karena menggambarkan bahwa dewa-dewi Yunani itu nyata, maka mereka harus menyensor hal-hal yang baik dari kurikulum bahasa Inggris di setiap negara bagian. Mitologi Yunani dipelajari secara berkelanjutan dari kelas 1 sampai 8, belum lagi Iliad dan Odyssey di kelas yang lebih senior. Sastra Inggris sangat berkaitan dengan mitologi Yunani. Mulai dari era Chaucer hingga novel-novel modern, keduanya berkaitan erat. Percy Jackson adalah bagian dari tradisi. Aku berharap cerita ini membuat anak-anak ingin membaca—itulah yang terpenting!

Seperti buku lainnya, aku ingin mendorong para orangtua untuk membaca Percy Jackson dan biarkan mereka memutuskan sendiri apakah itu buku yang tepat bagi putra-putri mereka. Hal ini butuh waktu, tentu saja aku tahu, tapi itu satu-satunya cara agar mereka membuat keputusan yang bulat.

Banyak orang membandingkan buku serialmu dengan Harry Potter. Apakah memang ada kesamaan?

Dengan banyaknya cerita fantasi yang terus bermunculan, disbanding-bandingkan dengan Harry Potter adalah sesuatu yang tak terhindarkan. JK Rowling menentukan standar bagi buku-buku yang berkaitan dengan anak-anak (bagi orang dewasa juga, tentu saja).

Terkait kesamaan antara Percy dan Harry, ada beberapa hal yang ingin kukatakan:

Pertama, kuakui bahwa Percy Jackson dan Harry Potter sama-sama ditarik ke dalam cerita dongeng dan mitologi. Ide tentang seorang anak laki-laki yang mengetahui bahwa dirinya spesial, berlatih menggunakan keahliannya, kemudian mengalahkan musuh jahat untuk mendapatkan tempat yang layak bagi dirinya—ini adalah benang merah dari kisah Harry maupun Percy. Sama halnya seperti kisah Perseus, Theseus dan Hercules—sebuah kisah yang telah berumur lebih dari 3000 tahun. Kebanyakan elemen yang disebut oleh orang-orang sebagai kesamaan di antara kisah Percy dan Harry berasal dari mitologi. Serial Harry Potter menggunakan formula mitologi dan cerita rakyat hingga menghasilkan efek yang indah, namun JK Rowling tidak menciptakan elemen itu sendiri.

Kedua, Percy dan Harry sama-sama terlahir sebagai anak yang berbeda, dan tinggal di dunia yang berbeda. Perkemahan Demigod penuh dengan misteri dan keajaiban, memang, namun ia memiliki rasa yang unik dan sama sekali berbeda dengan Hogwarts. Percy dan Harry memiliki latar belakang yang berbeda. Mereka tidak memiliki masalah yang sama berkaitan dengan orangtua. Dibandingkan Harry, Percy cenderung lebih sering membuat masalah. Ia seringkali dicap “anak nakal” dan dikeluarkan dari sejumlah sekolah (walaupun sebenarnya ini bukan kesalahan dia sepenuhnya). Harry kemungkinan akan menahan teman-temannya jika mereka terlibat perkelahian. Sementara Percy justru akan langsung meninju si tukang gencet. Mereka juga memiliki kesamaan, Harry dan Percy memperoleh kekuatan besar dan tanggung jawab yang dibebankan sebelum mereka benar-benar siap. Keduanya sama-sama pemberani. Keduanya sama-sama harus menghadapi ketakutan terbesar mereka dan bergantung pada segelintir sahabat setia. Namun secara keseluruhan cerita mereka sangat berbeda. Kurasa pembaca akan menyadarinya setelah membaca The Lightning Thief.

rick-riordan003
Sumber: The Boston Globe.

Apakah aku berharap pembaca Harry Potter akan menikmati buku-bukuku? Tentu saja. Mendapati karyaku diperbandingkan dengan Rowling adalah sebuah sanjungan, karena aku sangat mengagumi karya-karyanya. Aku benar-benar memahami mengapa anak-anak sangat mencintai Harry Potter. Dampak yang ditimbulkan dari buku-buku tersebut terhadap para pembaca muda tidaklah berlebihan. Semasa aku menjadi guru, aku tidak pernah melihat hal lain yang membuat para murid begitu bersemangat seperti halnya Harry Potter. Aku terbiasa melihat murid-muridku di kelas membaca Sorcerer’s Stone untuk ketiga belas bahkan keempat belas kalinya, hanya karena mereka ingin. Aku pernah berkata, “Itu buku yang hebat, tapi apa kalian nggak bosan?” Mereka biasanya akan memandangku dengan iba dan berkata, “Tentu saja, tapi nggak ada buku lain yang sehebat buku ini.” Setelah mendengar jawaban tersebut, aku menyadari bahwa anak-anak membutuhkan buku cerita yang memberi dampak sehebat Harry Potter namun belum terpenuhi. Itu sebabnya aku memutuskan untuk melakukan sesuatu—aku mengenal karakteristik pembaca muda. Aku memahami apa yang mereka sukai. Hasilnya adalah The Lightning Thief. Apakah aku berhasil atau tidak, biar anak-anak yang memutuskan.

Apakah kau pernah berkunjung ke Yunani atau Italia, atau kau baru berencana untuk mengunjunginya?

Ya, aku pernah ke Italia dan Yunani, namun setelah aku menyelesaikan serial Percy Jackson, ironis bukan? Kita tidak perlu bepergian ke suatu tempat, untuk sekadar mengapresiasi cerita dari sebuah mitologi.

Bagaimana perbedaan yang Uncle Rick rasakan dalam hal menulis cerita untuk pembaca dewasa dan anak-anak?

Kau tahu, ketika aku menulis Percy Jackson, aku tak menemui perbedaan yang begitu besar dibandingkan saat aku menulis novel Tres Navarre. Kurasa anak-anak juga menginginkan hal yang sama seperti pembaca dewasa saat membaca sebuah buku—alur yang cepat, karakter yang memikat perhatian, humor, kejutan, dan misteri. Buku yang bagus selalu membuatmu bertanya-tanya, dan membuatmu ingin terus membalikkan halaman agar bisa menemukan jawabannya.

Aku tidak menyederhanakan apapun saat menulis The Lightning Thief. Aku tidak khawatir dengan kosakata atau panjang kalimat atau jumlah halaman yang terlalu banyak. Tentu saja, aku cenderung menulis dalam kalimat yang singkat dan tajam, tapi menurutku salah kalau kita sengaja menurutku tidak tepat kalau kita sengaja menurunkan kualitas hanya karena kita menulis untuk pembaca anak-anak. Mereka benci hal seperti itu. Mereka ingin diperlakukan sama halnya seperti pembaca yang cerdas dan intelek. Namun demikian aku tetap memastikan bahwa kontennya sesuai dengan pembaca muda—biar bagaimana pun, putraku adalah pembaca pertama. Tapi dari segi gaya kepenulisan, aku berharap Percy Jackson bisa dinikmati baik oleh pembaca dewasa maupun pembaca muda.

Aku melakukan yang terbaik untuk membuat cerita ini menarik. Aku telah mengajar membaca selama bertahun-tahun, dan aku tahu anak-anak mudah merasa bosan dengan penjelasan yang bertele-tele hingga beberapa halaman. Mereka mudah bosan terhadap buku yang alurnya tidak jelas, kurasa pembaca dewasa pun tak jauh berbeda. Satu hal yang pasti, menulis buku anak membuatku menjadi penulis buku dewasa yang lebih baik, karena aku memaksa diriku untuk memperketat cerita yang aku tulis.

Apakah buku cerita misteri yang kau tulis pantas dinikmati pembaca muda?

Sama sekali tidak, cerita itu tidak ditujukan bagi anak-anak karena memiliki konten dewasa, kosakata yang tidak pantas, dan sebagainya. Cerita-cerita itu tidak lebih buruk dibandingkan film dewasa pada umumnya, namun aku tidak merekomendasikan buku tersebut dikonsumsi oleh pembaca di bawah 17 tahun. Aku bahkan tidak yakin para pembaca muda akan menikmatinya, karena benar-benar berbeda dengan Percy Jackson.

haley-riordan-and-rick-riordan
Haley Riordan & Rick Riordan. Sumber: Percy Jackson Movies.

Menurutmu, apa sebabnya orang-orang, terutama anak-anak, begitu tertarik dengan cerita fantasi?

Para pembaca muda biasanya suka lari dari kenyataan dan menyelinap ke dunia fantasi. Lebih mudah bagi mereka membaca cerita tentang orang-orang yang melakukan hal-hal menakjubkan seperti melafalkan mantra dan mengendarai naga dibandingkan melakukan hal-hal normal yang membosankan seperti pergi ke sekolah. Rasanya menyenangkan berpura-pura menjadi orang lain ses
ekali.

Apakah kau pernah menyangka bahwa buku-bukumu akan menjadi sangat terkenal?

Aku memang berharap cerita yang aku tulis akan membuat anak-anak senang membaca, tapi aku tak menduga akan terjadi pertumbuhan yang begitu pesat. Kesuksesan yang diraih Percy Jackson memang tidak terjadi dalam satu malam. The Lightning Thief beredar dari satu anak ke anak yang lain, dari satu guru ke guru yang lain, dari satu orangtua ke orangtua yang lain, dan serial ini pun bertambah besar seiring terbitnya buku terbaru, hingga akhirnya menjadi fenomenal. Aku berhutang banyak pada para pustakawan di Texas, yang merangkul buku-bukuku sejak awal dan menggelar bincang buku dengan pengunjung anak-anak. Tanpa kehadiran mereka, aku ragu Percy Jackson akan menjadi terkenal secepat ini. Aku mengukur kesuksesan berdasarkan anekdot—anak-anak yang berkata mereka tak suka membaca sampai menemukan The Lightning Thief, para orangtua yang berterima kasih kepadaku karena putri mereka kembali mencintai buku, para guru yang berkata aku memperbaiki kelas mereka karena anak-anak terikat pada Percy Jackson setiap hari. Itu semua adalah hal-hal yang sangat berarti bagiku.

Ada saran bagi anak-anak muda yang ingin menjadi penulis?

Aku mulai menulis dengan serius saat aku di kelas depan. Aku memiliki guru bahasa Inggris yang mendorongku untuk mempublikasikan tulisanku.

Aku menjadi guru bahasa Inggris sebagian besar karena terpengaruh oleh Mrs. Pabst, dan aku suka memperoleh kesempatan untuk mendorong anak-anak menulis sama halnya seperti yang dilakukan guruku dulu. Itulah salah satu alasan aku sama sekali tidak cemas meninggalkan ruang kelas untuk menjadi penulis purnawaktu.

Hal pertama yang harus dimiliki oleh penulis muda adalah seorang mentor yang mempercayai kemampuan mereka. Jadi, jangan ragu untuk meminta bantuan! Carilah guru yang kau hormati. Jalinlah hubungan baik dengan penulis. Kamu akan menyadari bahwa email yang sopan lebih besar kemungkinannya untuk direspon.

Yang kedua, bacalah sebanyak mungkin! Bacalah apapun yang bisa kamu baca. Kalian akan belajar seni menulis dengan membenamkan diri dalam suara, gaya, dan struktur dari penulis yang telah menulis lebih dulu.

Ketiga, menulislah setiap hari! Bawa selalu jurnal ke mana pun kamu pergi. Catatlah cerita menarik yang kamu dengar. Tulislah deskripsi mengenai orang-orang yang kamu temui. Tak seberapa penting apa yang kamu tulis, tapi kamu harus terus berlatih. Menulis itu sama halnya seperti olahraga—kamu hanya akan menjadi lebih baik kalau terus berlatih. Kalau kamu tidak melakukannya terus menerus, “otot-otot” menulismu akan berhenti berkembang.

Yang terakhir, jangan berkecil hati! Penolakan adalah bagian dari menulis, dan memang terasa menyakitkan. Kuncinya adalah dengan terus melakukannya. Hias kamarmu dengan surat-surat penolakan, jika memang perlu, tapi jangan pernah menyerah![]


Diterjemahkan dari situs resmi Rick Riordan. Baca juga An Interview with Uncle Rick Part #1 dan Part #2.