rick-riordan002
Sumber: Instagram @rickriordan

Dari mana kau memperoleh ide tentang Percy Jackson?

Putraku Haley pernah memintaku menceritakan dongeng sebelum tidur tentang dewa-dewi Yunani dan para pahlawan. Aku telah mengajar mitologi Yunani di tingkat SMP selama bertahun-tahun, jadi aku pun dengan senang hati memenuhi permintaannya. Ketika aku mulai kehabisan cerita, ia sempat kecewa dan memintaku untuk membuat cerita baru dengan karakter yang sama.

Aku berpikir selama beberapa saat. Lalu aku teringat proyek menulis kreatif yang dulu pernah aku lakukan bersama murid-murid kelas 6—aku meminta mereka menciptakan pahlawan versi mereka sendiri, putra maupun putri dari dewa mana pun yang mereka inginkan, dan meminta mereka membuat semacam tugas ala Yunani bagi pahlawan tersebut. Di kepalaku seketika muncul tokoh Percy Jackson yang mendapat tugas untuk menemukan kembali petir Zeus dengan latar Amerika di era modern. Butuh waktu sekitar tiga malam untuk menyelesaikan seluruh cerita, dan begitu aku selesai, Haley berkata bahwa aku harus menuliskan cerita tersebut ke dalam buku.

Sebenarnya ada banyak hal yang harus aku lakukan, tapi entah bagaimana akhirnya aku memiliki waktu untuk menyelesaikan kisah Percy Jackson hingga setahun lebih. Aku begitu menikmati saat menuliskannya. Ceritanya sangat seru dan menyenangkan, begitu berbeda dengan buku fiksi dewasa yang telah aku tulis, hingga tak kusadari aku menghabiskan begitu banyak waktu untuk menuliskannya. Kini, aku bahagia telah menyelesaikannya!

Apakah Uncle Rick sempat menunjukkan draft awal Percy Jackson kepada murid-muridmu sebelum novelnya diterbitkan?

Ya, begitu putraku mendengar naskah awalnya dan berkata bahwa cerita itu sangat hebat, aku ingin benar-benar yakin bahwa cerita itu menarik bagi anak-anak yang lebih besar, yakni murid-murid yang aku ajar. Aku memilih beberapa anak dari kelas dan meminta mereka untuk menjadi pembaca pertama dari novel yang akan aku tulis. Aku gugup sekali! Aku sudah terbiasa menunjukkan karyaku kepada orang dewasa, namun aku tak tahu apakah anak-anak akan menyukai Percy. Aku akhirnya tahu bagaimana rasanya jadi murid-murid yang aku ajar, saat harus menyerahkan esai dan menanti berapa nilai yang kudapatkan!

Untungnya, anak-anak sangat menyukai cerita tersebut. Mereka bahkan memberikan beberapa masukan yang benar-benar bagus. Mereka membantuku memilih judul yang terbaik. Mereka juga memberikan beberapa ide tentang bagaimana sebaiknya Percy bersikap jika ia memiliki ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder/Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas). Salah seorang murid bahkan membantuku menentukan bagaimana cara kerja pedang milik Percy, Anaklusmos. Aku senang telah menunjukkan novel itu pertama kali kepada anak-anak. Biar bagaimanapun, untuk anak-anak seperti merekalah aku menulis novel tersebut.

Mengapa Uncle Rick membuat karakter Percy Jackson memiliki ADHD dan disleksia?

Ketika aku menulis Percy Jackson, putraku sedang dalam proses pengujian karena didiagnosis memiliki perbedaan cara belajar. Ia mengalami kesulitan dalam membaca dan sulit fokus di dalam kelas. Gurunya menduga ia memiliki ADHD dan disleksia. Dia frustrasi belajar membaca, dan kami harus menjelaskan kepadanya bahwa pengujian ini dirancang untuk membantu para guru agar bisa membantunya, bukan untuk membuatnya merasa buruk.

Sebagai guru, aku seringkali berhadapan dengan para murid yang juga memiliki perbedaan cara belajar. Aku berpartisipasi dalam evaluasi percobaan dan membuat beberapa modifikasi di kelas. Meski demikian, rasanya tetap saja berbeda saat yang melalui proses itu adalah putramu sendiri. Pada akhirnya, putraku terdaftar dalam program Scottish Rite, yang melayani anak-anak dengan kesulitan membaca seperti disleksia. Kini keadaannya sudah jauh lebih baik, tapi itu bukan proses yang mudah.

Rick Riordan
Sumber: Instagram @rickriordan

Sementara hal ini terjadi, aku banyak membaca tentang disleksia dan ADHD. Aku menyukai buku Keeping a Head in School and Driven to Distraction. Aku terkejut saat mengetahui bahwa disleksia dan ADHD memang lumrah terjadi bersamaan. Buku itu juga mengonfirmasi sebuah pernyataan yang sudah aku ketahui kebenarannya: anak-anak disleksia dan ADHD terlahir kreatif, seorang pemikir yang “out of the box”. Mereka tumbuh seperti itu, karena mereka tidak melihat maupun menyelesaikan masalah dengan cara yang sama seperti anak-anak kebanyakan.

Sayangnya, di lingkungan sekolah anak-anak seperti ini dicap pemalas, tidak punya motivasi, kasar, atau bahkan bodoh. Kenyataannya, mereka sama sekali tidak seperti itu. Jika anak-anak ini berhasil melalui masa-masa sekolah yang sulit, biasanya mereka akan tumbuh menjadi orang hebat setelah dewasa. Di tempat kerja, mereka sangat disukai atasan, karena seringkali mereka muncul dengan ide-ide segar dan original. Membuat Percy sebagai karakter yang disleksia sekaligus ADHD adalah caraku memberi penghargaan kepada anak-anak yang mengalami hal serupa di luar sana. Menjadi berbeda bukan sesuatu yang buruk kok. Terkadang, itu adalah tanda bahwa kita adalah orang yang benar-benar berbakat. Hal itulah yang Percy temukan tentang dirinya dalam buku The Lightning Thief.

Apakah kau melihat sosok dirimu dalam diri Percy Jackson?

Percy memiliki selera humorku. Sama seperti dirinya, aku tidak selalu jadi murid teladan di sekolah. Percy adalah kombinasi dari beberapa murid yang pernah aku ajar di sekolah, dan sebagian lagi dari pergulatan putraku yang mengalami disleksia dan ADHD.

Isu kepedulian terhadap lingkungan muncul di buku Percy Jackson. Apakah kau punya pesan lain yang ingin disampaikan kepada pembaca dewasa?

Pesan yang kusampaikan di dalam buku bukanlah sebuah kesengajaan, karena tugasku adalah menuliskan sebuah cerita yang bagus, bukan ceramah. Namun, aku memang memilih tema tertentu dalam mitologi Yunani yang masih relevan dengan permasalahan di era modern. Dan tentu saja, hubungan antara manusia dengan alam adalah salah satu di antaranya. Aku selalu terpesona pada sosok Dewa Pan. Laporan mengenai kematiannya di masa purba, tampaknya masih sangat bersangkutan dengan pembaca modern.

Apakah kau juga memiliki ketertarikan dengan mitologi Nordik?

Aku mencintai mitologi Nordik hamper sama lamanya dengan aku mencintai mitologi Yunani. Aku punya guru luar biasa saat aku berusia 13 tahun yang menunjukkan padaku bahwa the Lord of the Rings, serial favoritku, ditulis berdasarkan mitologi Nordik. Akhirnya aku menggunakan mitologi Nordik sebagai landasanku dalam menulis seri Magnus Chase and the Gods of Asgard.[]


Diterjemahkan dari situs resmi Rick Riordan. Baca juga An Interview with Uncle Rick Part #1 dan Part #3.