Rick RiordanUncle Rick ‘kan sudah lama berprofesi sebagai guru, mengapa memutuskan berhenti?

Itu adalah keputusan yang sulit. Aku sangat senang mengajar. Aku senang bekerja dengan anak-anak. Selama bertahun-tahun aku menjadi guru purnawaktu dan menulis satu buku per tahun di serial misteri Tres Navarre. Ketika aku memutuskan menjual seri Percy Jackson ke Disney Book Group, aku menyadari bahwa kini aku harus menulis dua buku per tahun sesuai tenggat yang diberikan—satu buku dewasa dan satu buku anak. Kurasa aku takkan sanggup mengikuti ritme seperti itu dan tetap mengajar dengan baik di kelas, jadi aku pun mengambil keputusan untuk berhenti mengajar. Hal baiknya adalah, sebagai penulis buku anak, aku masih bisa bekerja bersama anak-anak. Semoga dengan menulis buku aku bisa mengajak lebih banyak anak-anak untuk tertarik mempelajari mitologi ketimbang saat aku menjadi guru.

Apakah murid-muridmu tahu kalau Uncle Rick menulis novel? Bagaimana pendapat mereka?

Kami jarang membicarakan hal ini di kelas, tapi sebagian besar murid-muridku tahu bahwa aku menulis buku. Kurasa mereka berpikir hal itu cukup keren, tapi mereka punya banyak hal lain untuk dipikirkan sebagai pelajar. Mulai dari PR, tekanan pergaulan, siapa naksir siapa—hal-hal seperti ini lebih menjadi prioritas ketimbang apa yang dilakukan oleh guru mereka.

Mereka sering berkata, “Wow, jadi kau menulis buku? Boleh aku jadi tokohnya?” Dan aku pun seringkali menggunakan nama para muridku sebagai karakter, tapi mereka biasanya terkejut saat mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melihat nama mereka ada di buku cetak. Misalnya jika aku meminjam nama seorang murid saat ia SMP, bisa jadi ia sudah SMA saat buku itu benar-benar jadi dan berada di toko buku.

Komentar terbaik yang pernah kudapatkan dari salah seorang muridku adalah saat aku memberi tugas menulis esai sepanjang 5 halaman, dan ia berkata: “Pak Rick, hanya karena kau menulis buku bukan berarti kami juga harus menulis buku.” Aku tertawa mendengarnya, tapi ia tetap harus menulis esai.

Hal lain tentang buku dan murid-muridku: Ketika aku mulai menulis kisah misteri untuk dewasa, tak pernah terpikir olehku bahwa murid-muridku yang masih SMP akan bertanya bolehkah mereka membaca tulisanku. Aku selalu menjawab tidak boleh—tunggulah sampai kau lebih dewasa. Tapi tentu saja, beberapa murid menganggap hal tersebut sebagai tantangan dan mereka tetap pergi ke toko buku. Aku selalu tahu saat ada anak yang telah membaca salah satu buku Tres Navarre-ku, karena saat ia datang ke kelas ada semacam tatapan jahil di matanya seolah berkata, “Wow, aku nggak nyangka Pak Rick suka memberontak.” Aku senang kini aku memiliki seri Percy Jackson yang bisa kurekomendasikan kepada anak-anak, jadi aku tak perlu mengalami dilema seperti itu lagi.

Apakah sejak awal Uncle Rick sudah tahu bahwa kau memang ingin menjadi penulis? Bagaimana kau mengawalinya?

Aku banyak menulis cerita pendek saat aku masih muda, bahkan sempat mengirimkan beberapa di antaranya (dan ditolak!). Surat penolakan yang pertama kali kudapatkan berasal dari majalah fiksi Isaac Asimov Science pada tahun 1978. Ibuku menyimpannya selama bertahun-tahun, dan menunjukkannya setelah karyaku berhasil dipublikasikan. Aku tidak pernah benar-benar serius menulis selama kuliah. Aku memfokuskan energi kreatifku di bidang musik, dan percaya atau tidak, aku pernah menjadi vokalis utama dari sebuah band rock!

Setelah lulus kuliah, aku menjadi guru dan cukup bahagia dengan kehidupanku. Namun di waktu senggang, aku membaca banyak buku misteri. Ketika kami sekeluarga pindah ke San Francisco, aku mulai merindukan Texas. Aku memutuskan, sekadar untuk bersenang-senang, aku akan mencoba menulis novel yang berlatar kampung halamanku di San Antonio. Sepuluh bulan kemudian, selesailah Big Red Tequilla. Anehnya, aku punya perasaan bahwa Big Red Tequilla akan diterbitkan. Ia terasa berbeda dengan cerita-cerita yang aku tulis sebelumnya, karena novel tersebut benar-benar memaksaku untuk menuliskannya. Ide ceritanya mencekik leherku dan tidak akan melepaskanku sampai naskahnya telah kuselesaikan.

Aku berkata kepada calon penulis bahwa kau harus menemukan apa yang HARUS kau tulis. Ketika kau telah menemukannya, kau akan tahu, karena hal itu takkan pernah membiarkanmu lolos. Tidak cukup kuat alasanmu untuk menulis kalau kau hanya berpikir bahwa tulisanmu cukup baik untuk diterbitkan. Kau harus benar-benar terdorong untuk menulis. Kalau tidak, apa yang kau lakukan tidak ada artinya. Bagiku, itu berarti semakin jauh dari rumah untuk sementara waktu dan belajar untuk menghargai apa yang aku tahu, sebelum aku mengikuti pepatah lama, “Tulislah apa yang kau tahu.” Percy Jackson terasa tak jauh berbeda seperti Big Red Tequilla. Percy adalah karakter yang bersikeras bangkit untuk menjadi nyata.

Bagaimana caranya Uncle Rick menerbitkan buku pertama kali?

Waktu yang aku habiskan untuk menanti sampai karyaku terbit untungnya relatif singkat dibandingkan orang lain. Bagaimana pun, proses yang harus kulewati kurang lebih sama seperti penulis kebanyakan. Begitu aku menyelesaikan sebuah naskah, aku menghubungi banyak agen. Sebagian besar menolak. Hanya satu yang menerima. Satu-satunya keberuntungan yang aku dapatkan pada tahap ini adalah seorang penulis kreatif dari Bay Area membantu penyuntingan karyaku. Ia benar-benar membantuku merapikan tahap akhir naskah, dan mengizinkanku mencantumkan namanya pada surat permintaan, “Blablabla, penulis dari buku _____, menyarankan agar saya menghubungi Anda.” Hal sekecil itu tentu saja membawa pengaruh positif. Bahkan meskipun si agen tidak mengenal siapa penulis yang dimaksud, setidaknya ia tahu bahwa ada seseorang dari bidang ini yang memberi dukungan terhadap karyamu. Maka dari itu, menurutku menyewa seorang editor untuk menyunting tulisanmu sedikit banyak akan membantu. Kau bisa mulai dengan mencari editor paruh waktu di institusi pendidikan lokal.

Begitu aku mendapat agen, ia mulai menawarkan naskah tersebut ke banyak penerbit. Sebagian besar menolak, dengan memberikan alasan yang berbeda-beda. Beberapa menyukai ceritanya, namun tidak menyukai karakternya. Beberapa menyukai karakternya, namun tidak menyukai jalan cerita. Tampaknya sulit sekali mendapat kesepakatan dengan penerbit. Akhirnya, kami berhasil mendapat penawaran dari Bantam Doubleday Dell, dan seri itu pun berhasil diterbitkan.

Aku menyelesaikan naskah Big Red Tequilla tepat sebelum ulang tahunku yang ke-30, bulan Juni 1994. Buku itu kemudian terbit pada bulan Juni 1997. Jadi, mulai dari surat permintaan hingga diterbitkannya buku, memakan waktu sekitar 3 tahun. Dan makan waktu setahun sejak aku menandatangani kontrak sementara Bantam mempersiapkan buku tersebut untuk diterbitkan.[]


Diterjemahkan dari situs resmi Rick Riordan. Baca juga An Interview with Uncle Rick Part #2 dan Part #3.