Oleh: Truly Rudiono

Dari sekian banyak buku yang dikoleksi, apa yang paling favorit dari buku-buku Noura Books?

Eh…….
Yang ……
Judulnya…..
Nganu………..

Jadi bingung jika ditanya buku favorit. Setiap buku punya kesan tersendiri bagi saya. Sebagai pembaca, tentunya saya memiliki genre kesukaan, zona nyaman saya di dunia buku. Saya menikmati kisah detektif dan fantasi. Kedua genre tersebut membuat saya terhibur dan menjadi kreatif.

Bliss Trilogy

Untuk urusan detektif, munculnya Sherlock versi ABG bisa menghilangkan dahaga saya. Sayangnya sudah agak lama jenis ini terbit. Belum ada yang baru. Semoga saya bisa menemukan bacaan jenis ini dalam waktu tidak terlalu lama lagi ^_^

Di lain genre, urusan kisah fantasi cukup membuat saya harus lebih bijak memilih mana yang harus dibeli mengingat banyak buku nampol yang terbit. Keinginan berbanding terbalik dengan urusan ketersediaan dana.

The Bliss Bakery misalnya. Seri ini membuat kisah fantasi menjadi berbeda. Terlepas dari urusan peri, sosok terpilih yang menyelamatkan dunia, hewan fantasi dan sejenisnya. Ini kisah fantasi seputar urusan masakan. Kue yang bisa membuat orang bernyanyi merdu dengan bahan nyeleneh  bisa ditemukan dalam kisah ini. Sebenarnya masuk akal juga. Jika salah satu bahannya adalah nyanyian burung bulbul yang terkenal merdu. Memasak menjadi sesuatu kegiatan yang berbeda dalam buku ini. Membuat saya yang (mungkin) merebus air saja gosong menjadi tertarik belajar memasak (walau hanya niat, tapi lumayan lho).

Seri Fablehaven sungguh spektakuler!
Sempat kesal karena kehilangan buku satu, maka perburuan pun dilakukan. Kalau sudah begitu, harga beli tidak dipandang lagi, yang penting seri ini lengkap *tak lupa merapal doa semoga yang meminjam sadar dan mau mengembalikan*.

Fablehaven

Sebenarnya saya sangat jarang membaca ulang buku, tapi seri ini kadang-kadang masih saya baca lagi. Memang urusannnya mengenai hewan fantasi dan upaya menyelamatkan dunia, topik yang agak saya hindari belakangan, tapi sang penulis mampu meraciknya menjadi sesuatu yang berbeda. Tidak hanya hiburan, tapi pesan moral yang ada di antara tingkah laku konyol  sepasang satyr dan sikap ceroboh Seth patut menjadi bahan renungan.

Seiring waktu, penerbit yang satu ini membuat saya tidak hanya menikmati kisah fantasi dan detektif. Saya belajar untuk menikmati apa yang menarik tanpa harus terpaku pada zona nyaman. Mencoba sesuatu yang baru tidaklah selalu menghasilkan hal buruk.

Athirah001Saya mencoba mengisi waktu luang bersama buku-buku dengan tema berbeda. Kisah Athirah yang menginspirasi kaum wanita,  belajar bisnis melalui #GirlBoss, menularkan virus  menjauhkan anak dan gadget melalui Mendidik Anak di Era Digital, hingga merenung tentang perjodohan bersama Ustadz Wijayanto dalam Jodohku Maunya Sih Kamu.

Dan, mereka sukses membuat saya mewek bombai melalui Between Shades of Gray. Sungguh, saya memberikan seluruh jempol yang saya punya untuk tim yang berada di balik penerbitan buku ini. Saya tak merasa malu mengeluarkan air mata saat membaca kisah ini sepanjang perjalanan pulang kantor.

Between Shades of GrayPerang memang menakutkan, apa lagi ketika nyawa hanya seharga sebuah jam saku! Namun ketakutan akan membuat seseorang lemah dan tidak mampu bertahan.  Hanya kekuatan, ketabahan dan rasa kebersamaan yang mampu membuat semua menjadi lebih baik. Saya sangat bersyukur hidup bukan di sana.

Melalui Trilogi Sepatu Dahlan, saya belajar bagaimana  kosep marketing sebuah buku bisa dilakukan di alam terbuka, melibatkan banyak orang dan sukses. Proses “penjualan” dan program CSR bisa berjalan dengan harmonis. Bahkan proses kreatif yang sempat tersendat pun bisa diolah menjadi sebuah daya tarik tersendiri. Unik!

Tahun 2016 ini, Noura memanjakan saya dengan The Girl on The Train dan A Man Called Ove. Kedua buku ini bahkan dibuatkan semacam kegiatan diskusi buku khusus. Mungkin karena sudah cukup lama saling mengenal, para sahabat di Noura sudah tahu mana buku yang cocok dengan selera saya. Padahal keduanya bukan masuk genre nyaman saya. Saling percaya, merupakan salah satu hal yang membuat persahabatan menjadi semakin erat.

The Girl On The TrainTegang tapi penasaran  rasanya ketika membaca The Girl on The Train. Sebagai pengguna kereta api, saya sampai merasa menjadi sosok utama tokoh dalam buku ini. Memandang ke luar jendela, lalu melihat ada sesuatu yang berbeda dan seterusnya. Hal itu karena terlalu terpesona dengan kisah yang ada.

Sementara Ove, membuat saya bersyukur tidak punya tetangga seperti itu. Aduh, Om Ove please deh ah! Perlu gitu jadi sosok yang menyebalkan dengan alasan idealis? Tapi meski menyebalkan, ternyata hatinya tidak seluas sapu tangan, tapi sungguh lebar! Anak tetangga pun ikut merasakan kebaikan yang ditunjukan dengan caranya sendiri. Kadang, seseorang memiliki caranya sendiri, cara unik untuk menunjukkan perhatian serta kasih sayangnya pada orang lain.

Guantanamo DiaryMereka juga sukses membuat saya penasaran membaca Guantanamo Diary. Dengan begitu banyak baris yang ditutup, agak susah menikmati buku ini. Walau memang menilik proses penulisannya memang bukan untuk dinikmati. Tapi saya bisa mendapat pati sari keseluruhan cerita. Sedih, malu, marah, semua bercampur jadi satu.

Sungguh, waktu luang saya yang memang tidak banyak, sehingga perlu diisi dengan bacaan yang bermutu. Asupan bagi jiwa dan tambahan pengetahuan bagi diri. Sehingga memang belakangan saya agak memilih buku untuk dibaca dan membeli buku.

Baiklah, dengan tidak mengurangi kenikmatan membaca buku lainnya, buku yang paling saya suka di antara yang saya sebut di atas adalah Seri Fablehaven (Brandon Mull) dan Between Shades of Gray (Ruta Sepetys).