“Mi, lihat, lihat! Aqila bisa ngeluarin es kayak Elsa!”seru anak perempuan sulung kami saat dunia sebayanya sedang demam film Frozen.

Setelah era Frozen berakhir dan datang serial kartun Doc McStuffin, putri kecil kami pun mengubah tatanan kamarnya seperti klinik dokter, lengkap dengan tempelan kertas berisi keterangan jam praktik, tumpukan kartu antrean, dan label nama di pintu, “Aqila, dr.h.p.”

“Apa itu dr.h.p, Kak?” tanya saya.

“Dokter hewan pesulap, Mi!” jawabnya polos.

Atau di lain hari saya dan Ayahnya terkekeh geli menemukan anak wedhok ini sedang ngomong sendiri di kamarnya sambil berputar-putar.

Saat coba mencuri dengar, ternyata ia sedang berkhayal menjadi seorang putri yang sedang berdansa dengan teman temannya.

Saya yakin, Ayah Bunda pasti sering mengalami kejadian serupa, benar kan?

***

Imaginative play, begitu tokoh psikologi Lev Vygotsky menyebutnya.

Konsep imajinasi memang erat dengan kehidupan anak anak kita. Karena anak memandang dunia dengan cara yang berbeda dengan kita para orang dewasa. Namun sayangnya konsep imajinasi dalam fase perkembangan anak ini, luput dari perhatian para orangtua.

Anak seringkali diberikan feedback negatif saat sedang bermain dengan imajinasinya,

“Tukang mengkhayal, ih!” Begitu biasanya respons orangtua.

Akhirnya, fase tersebut sekadar momen yang numpang lewat di hidup ananda.

Padahal, imajinasi merupakan modal dasar dari semua aktivitas kreatif di masa depan anak. Imajinasi adalah komponen penting dari aspek seni dalam diri seseorang. Membantu anak mengembangkan kemampuan artistik dan konstruktif (Vygotsky, 2004).Web foto-Sabaqu 01

Tak hanya itu, imaginative play pun sudah berkembang menjadi salah satu pendekatan yang digunakan di dunia pendidikan, sebagai metode yang membantu tersampaikannya proses belajar dengan lebih efektif pada anak.

Kemampuan imajinasi pada anak akan terus berkembang mengikuti tahap usia anak. Mulai dari yang sederhana, hingga kompleks. Namun yang perlu Ayah Bunda ingat, orangtua berperan besar dalam menentukan apakah kemampuan imajinasi ini dapat berkembang dengan maksimal, atau justru terabaikan.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan orangtua untuk menstimulasi imajinasi pada anak. Misalnya membacakan buku dengan konsep buku kosong, di mana hanya ada gambar dan anak yang diminta mengembangkan ceritanya sendiri. Atau menyediakan mainan edukatif yang mendorong anak untuk berkreasi, seperti lego dan wooden blocks.

Imaginative play juga bisa dilakukan lewat bermain peran dengan memasukkan skenario berisi value yang ingin Ayah Bunda tanamkan ke anak tercinta.

Jadi, tidak perlu khawatir anak akan tumbuh menjadi orang yang “suka berkhayal” ya, Ayah Bunda!

Justru PR besar bagi orangtua untuk memberi stimulasi agar kemampuan imajinatif anak terpupuk dengan baik sehingga menjadi skill yang berharga di kehidupannya kelak. [tm]